Sinopsis Film Children of Heaven Part 2


Pagi telah tiba, Zahra berangkat sekolah dengan memakai sepatu Ali yang nampak lusuh dan kebesaran. Di sekolah ia nampak minder. Ketika bubaran sekolah, Zahra langsung bergegas berlari pulang menuju suatu tempat dimana Ali sudah menunggunya untuk bergantian memakai sepatu.

Setelah mengganti sandal yang ia pakai dengan sepatunya, Ali pun langsung melesat berlari menuju sekolah.

Ketika Ali pulang, Zahra bertanya apakah tadi Ali terlambat tiba di sekolah? Ali lalu berkata jika Zahra bisa lebih cepat berlari maka ia akan bisa tiba di sekolah tepat waktu.

Padahal, tadi itu Zahra sudah berlari sekuat tenaga dan berusaha secepat mungkin untuk menemui Ali dan mengganti sepatunya.

Keesokah harinya, Zahra berusaha untuk pulang lebih awal, dengan cepat ia mengerjakan dan mengumpulkan tugas dari gurunya. Lalu ia langsung berlari secepat mungkin menemui Ali yang sudah gelisah menunggunya. Namun malang, saat berlari, sepatu yang kebesaran itu terlepas dan terjatuh ke dalam selokan. Sepatunya hanyut. Zahra berusaha mengejar dan dengan susah payah meraihnya. 

Zahra menangis ketika sepatu tersangkut. Ia tidak bisa mengambilnya. Beruntung ada seorang bapak yang menolongnya. Ia pun berterimakasih, lalu segera bergegas menuju tempat Ali yang telah menunggu dengan membawa sebelah sepatu yang basah karena tercebur tadi. Karena kejadian itu, ia pun berkata kepada Ali bahwa ia tidak mau lagi memakai sepatu itu. Ia ingin bilang saja terus terang ke ayahnya. Namun sekali lagi Ali melarangnya.

Lalu Ali pun langsung berlari meninggalkan Zahra menuju sekolah. Dan, untuk yang kesekian kalinya, ali terlambat. Ia ditegur kepala sekolah sambil berkata jika sekali lagi terlambat, ali tidak akan diperbolehkan masuk ke kelas. Ali pun berjanji untuk tidak datang terlambat lagi.

Beberapa waktu berlalu. Mereka masih harus terus berlari agar dapat sampai tepat waktu dan bergantian memakai sepatu.

Pagi itu, Ali kepergok terlambat untuk yang kesekian kalinya, ia dihukum tidak boleh masuk kelas dan diminta pulang oleh kepala sekolah. Beruntung ia ditolong oleh gurunya. Pak guru berkata kalau Ali anak yang baik, pintar dan juga patuh. Dan atas usaha gurunya tersebut, akhirnya Ali diijinkan masuk kelas dan mengikuti pelajaran.

Saat berbaris di sekolah, Zahra melihat sepatunya dipakai oleh adik kelasnya. Hingga pulang sekolah ia pun kemudian mengikutinya hingga sampai ke depan sebuah rumah. Zahra lalu memberitahu Ali dan bersamannya didatangi rumah anak itu, namun betapa kagetnya mereka ketika dilihatnya ayah dari anak tadi buta dan akan pergi mengasong dengan dituntun anaknya. Melihat hal itu, Ali dan Zahra pun mengikhlaskan sepatunya.

Malam jum’at, ada acara pengajian di masjid. Ayah Ali bertemu temannya dan dipinjami seperangkat alat-alat pertamanan.

Keesokan harinya, ayah Ali libur. Dengan menggunakan sepeda, ayah mengajak Ali menuju ke kota untuk menawarkan jasa pemeliharaan taman. Setelah ditolak dibeberapa tempat, ada seorang kakek dengan cucunya yang menggunakan jasa mereka. Dan merekapun mendapatkan bayaran lebih. Betapa bahagianya mereka. Ayah berencana hendak membeli segala kebutuhan rumah tangga. Ali meminta ayah untuk membelikan sepatu untuk Zahra, dan ayah pun setuju.

Namun malang tak dapat ditolak, ketika hendak pulang, sepeda yang dinaiki remnya blong, dan menabrak pohon besar. Sepeda mereka rusak parah, kepala ayah luka. Setelah berobat mereka pun pulang dengan diantar mobil bak.

Suatu hari pak guru memberikan sebuah pengumuman bahwa akan ada lomba lari. Awalnya Ali tidak ingin ikut karena kondisi sepatunya yang sudah butut. Namun ketika Ali mengetahui bahwa hadiah untuk juara ketiga adalah sepasang sepatu, Ali jadi bersemangat untuk ikut dengan harapan mendapatkan juara ketiga dan mempersembahkan hadiah sepatu tersebut untuk Zahra adiknya.

Ali pun akhirnya berusaha ikut walaupun sebenarnya pendaftarannya telah ditutup. Ia mencoba meminta dengan sangat kepada pak guru untuk mendaftarkan dirinya. Pak guru yang melihat kesungguhan Ali, memintanya menunjukkan kemampuannya berlari. Karena Ali sudah terbiasa berlari setiap harinya untuk bertukar sepatu, akhirnya Ali pun diterima oleh guru olahraga untuk diikutsertakan dalam lomba.

Hari yang dinanti pun tiba. Pertandingan dimulai. Berbekal semangat dan tekad yang kuat, Ali dapat berlari di urutan terdepan. Ia lalu mengatur jarak agar posisinya ada diurutan ketiga.

Saat berlari, Ali sempat terjatuh. Namun ia tidak menyerah. Ia bangkit dan terus berlari sekuat tenaga, hingga akhirnya ia sampai di garis finish di urutan pertama dengan selisih yang sangat tipis dengan urutan kedua dan ketiga.

Saat penyerahan hadiah dan mendapatkan piala, Ali malah menangis. Ia kecewa tidak bisa menjadi juara ketiga. Ia terbayang wajah adiknya yang kecewa karena tidak jadi mendapat hadiah sepatu.

Zahra telah menunggu saat Ali sampai di rumah, namun ia tidak berkata apa-apa. Ia melepas sepatunya yang telah telah jebol. Kakinya sampai lecet-lecet. Sambil beristirahat, dimasukkannya kakinya yang mengelupas tersebut dalam kolam ikan di depan rumah kontrakannya. Ali sangat sedih karena gagal mendapatkan sepatu yang akan diberikan pada adiknya.

Di saat yang sama, diperlihatkan ayah Ali sedang berbelanja ke pasar dengan menggunakan sepedanya. Di antara barang bawaannya, terlihat bungkusan berisi dua pasang sepatu berwarna putih dan merah muda untuk kedua anaknya, Ali dan Zahra.

Film pun berakhir.

Yah, walau ceritanya sangat sederhana, namun film ini sangat sarat akan pesan moral. Kehidupan anak-anak miskin di Iran begitu tergambar jelas dalam film karya Majid Majidi ini. Selain itu, film yang juga tayang di AS dan beberapa negara Asia Timur lainnya ini juga selalu berhasil membuat siapapun yang menontonnya terharu dan menitikkan air mata.

Banyak nilai yang dapat kita ambil dari film ini, betapa sosok Ali adalah pribadi yang sangat bertanggung jawab. Rajin membantu orangtua dan bersedia menanggung konsekuensi atas kesalahan yang telah ia perbuat. Ia tidak pernah mengeluh pada keadaan dan gigih dalam mencapai tujuan. Sosok ayah yang pekerja keras dan amanah. Ibu yang penyayang dan baik hati. Serta Zahra, adik yang sangat pengertian dan sabar menghadapi keadaan yang tidak menguntungkan. Sungguh, film yang sangat epik.

Posting Komentar untuk "Sinopsis Film Children of Heaven Part 2"